Transplantasi Kornea

Definisi

Kebutaan kornea adalah salah satu penyebab utama kebutaan yang dapat dipulihkan, yang bisa diatasi dengan transplantasi kornea donor yang sehat. Transplantasi kornea merupakan jenis transplantasi organ yang paling berhasil dalam tubuh manusia, karena kornea tidak memiliki pembuluh darah, sehingga mengurangi risiko penolakan cangkok.

Apa itu Kornea?

Kornea, yang merupakan struktur transparan tanpa pembuluh darah, memainkan peran penting dalam melindungi komponen internal mata dan memberikan kontribusi signifikan terhadap dua pertiga kekuatan refraktifnya. Kornea yang cembung, terletak sebagai bagian terdepan dari bola mata, memiliki diameter sekitar 11,5 mm; ketebalannya bervariasi mulai dari pusat, yang berukuran 550 hingga 565 μm, hingga ke tepi yang berkisar antara 610 hingga 640 μm. Kornea memiliki banyak serabut saraf yang berasal dari jaringan saraf siliari panjang yang berasal dari cabang oftalmik saraf trigeminal (lihat Gambar: Kornea, Iris, dan Lensa, Gambar Slitlamp).

Lapisan Kornea (dari luar ke dalam) : 

  • Epithel 
  • Lapisan Bowman
  • Stroma
  • Membrane Descemet
  • Endothel

 

Indikasi Transplantasi Kornea

Kebutaan kornea tetap menjadi masalah global yang luas, dengan indikasi untuk transplantasi kornea yang bervariasi di berbagai wilayah. Di negara maju, bullous keratopathy adalah alasan yang paling umum untuk transplantasi kornea. Sementara itu, keratitis dan corneal cicatrix lebih sering menjadi indikasi di negara berkembang. Perlu dicatat, telah terjadi perubahan signifikan di negara-negara berkembang terkait transplantasi kornea, di mana kondisi ini telah bergeser dari PBK (pseudophakic bullous keratopathy) ke degenerasi kornea yang menyebabkan kebutaan.

 

Kontraindikasi

Kontraindikasi absolut dan relatif untuk transplantasi kornea bervariasi di setiap negara dan bergantung pada kondisi regional.

Diantaranya, jika terdapat kondisi pemeriksaan laboratorium darah terdeteksi positif (+) dari penyakit infeksi, diantaranya : 

  • HIV 
  • Hepatitis B 
  • Hepatitis C 
  • Sifilis 
  • Rabies

Teknik Operasi

1. Penetrating Keratoplasty (PKP)

Keratoplasti Penetrasi (PKP) adalah prosedur bedah yang melibatkan penggantian total kornea penerima dengan cangkok kornea donor yang memiliki ketebalan penuh. Penggunaan trephine dengan ukuran yang sesuai mempermudah pengangkatan kornea penerima. Jika dilakukan dengan perawatan pascaoperasi yang hati-hati, transplantasi kornea dapat memberikan hasil yang sukses yang bertahan selama beberapa tahun. Namun, PKP memiliki potensi komplikasi intraoperatif dan pascaoperatif yang memerlukan penanganan yang tepat waktu untuk mencapai hasil yang optimal. Episode penolakan cangkok dapat terjadi kapan saja setelah keratoplasti optik, dan berbagai faktor risiko berkontribusi pada kemungkinan terjadinya penolakan. 

 

2. DALK (Deep Anterior Lamellar Keratoplasty)

DALK (Deep Anterior Lamellar Keratoplasty) dapat menjadi pengobatan efektif untuk patologi kornea anterior (epitel, lapisan Bowman, dan stroma) selama endotel pasien tetap utuh dan berfungsi baik. Indikasi umum untuk DALK meliputi keratokonus dan jaringan parut kornea. Pasien dengan keratokonus adalah kandidat yang baik untuk DALK karena umumnya masih muda dan memiliki endotel yang sehat. Pada pasien ini, risiko reaksi imunologis pasca-PKP yang dapat mengganggu fungsi endotel, yang dapat terjadi hingga 20 persen kasus, bisa dihindari. Indikasi DALK yang lebih jarang termasuk keratokonjungtivitis vernal, distrofi kornea, dan penyakit permukaan okular dengan defisiensi sel punca limbal, seperti sindrom Stevens-Johnson, pemfigoid sikatrikial okular, serta luka bakar kimia/termal.

 

3. DSAEK (Descemet Stripping Automated Endothelial Keratoplasty)

Descemet Stripping Automated Endothelial Keratoplasty (DSAEK) adalah prosedur transplantasi kornea parsial yang melibatkan pengangkatan selektif membran Descemet dan endotel pasien, diikuti dengan transplantasi endotel donor beserta stroma kornea donor. Jaringan yang ditransplantasikan memiliki ketebalan sekitar 100-200 mikron. Endotel pada cangkok berisiko mengalami kerusakan jika kontak dengan instrumen bedah; oleh karena itu, prosedur ini dirancang untuk menghindari kontak langsung dengan endotel donor.

Insisi korneosklera dengan saluran dibentuk, endotel dan membran Descemet dari penerima diangkat, cangkok dilipat dan dimasukkan dengan forceps yang tidak menyatu di ujungnya, dan gelembung udara ditempatkan di bilik anterior untuk membantu cangkok menempel.

Prosedur ini digunakan untuk mengatasi edema kornea akibat distrofia endotel (seperti distrofia kornea Fuchs dan distrofia kornea polimorf posterior), pseudofakik bullous keratopathy, sindrom iridokornea endotel (ICE), kegagalan endotel pada operasi intraokular sebelumnya atau transplantasi PK sebelumnya, serta berbagai penyebab disfungsi endotel kornea lainnya.

DSAEK memberikan keuntungan waktu penyembuhan yang relatif cepat dan rehabilitasi visual yang lebih baik. Dibandingkan dengan PK dan DALK, risiko penolakan cangkok serta komplikasi terkait jahitan lebih rendah.

4. DMEK (Descemet Membrane Automated Endothelial Keratoplasty) 

DMEK adalah prosedur transplantasi kornea parsial yang melibatkan pengangkatan selektif membran Descemet dan endotelium pasien, diikuti dengan transplantasi endotelium dan membran Descemet donor tanpa tambahan jaringan stroma dari donor. Jaringan cangkok ini hanya setebal 10-15 mikron. Seperti pada DSAEK, kontak langsung dengan jaringan cangkok DMEK harus dihindari untuk mencegah kerusakan sel endotel dan kegagalan cangkok.

Insisi kornea jernih dibuat, endotelium penerima dan membran Descemet diangkat, dan cangkok dimasukkan ke dalam ruang anterior menggunakan alat inserter. Setelah jaringan cangkok disuntikkan ke ruang anterior, ahli bedah menyesuaikan orientasi dan membuka gulungan cangkok, kemudian gelembung sulfur heksafluorida (SF6) 20% ditempatkan di ruang anterior untuk mendukung perlekatan cangkok.

Varian yang dikenal sebagai Descemet membrane automated endothelial keratoplasty (DMAEK) menggunakan persiapan otomatis jaringan donor yang meninggalkan lapisan tepi stroma donor secara perifer agar lebih mudah ditangani. Namun, prosedur ini sudah tidak lagi digunakan karena perkembangan dalam DMEK yang memungkinkan penyisipan dan manipulasi jaringan cangkok lebih mudah.

Indikasi DMEK mirip dengan DSAEK, termasuk distrofi endotelial (seperti distropi kornea Fuchs dan distropi kornea polimorf posterior), keratopati bulosa pseudofakik, sindrom ICE, serta penyebab lain disfungsi endotel kornea.

DMEK menawarkan rehabilitasi visual yang paling cepat dibandingkan dengan teknik keratoplasti lainnya. Ketajaman visual akhir dapat sangat baik karena efek minimal pada antarmuka optik. Dengan jaringan yang ditransplantasikan lebih sedikit, risiko penolakan alograf lebih rendah, dan ketergantungan jangka panjang pada steroid topikal juga berkurang dibandingkan dengan jenis keratoplasti lainnya.

Prognosis

Seperti halnya semua jenis operasi, transplantasi kornea juga memiliki risiko komplikasi.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi meliputi penolakan kornea baru oleh tubuh, infeksi, serta gangguan penglihatan lebih lanjut.

Selama masa pemulihan, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan :

  • Gunakan obat tetes mata sesuai dengan anjuran dokter spesialis mata.
  • Jika diperlukan, konsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas. Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai obat yang aman dikonsumsi.
  • Kenakan kacamata atau pelindung mata untuk melindungi mata dari cedera.
  • Diskusikan dengan dokter spesialis mata mengenai kapan Anda bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.
  • Bergantung pada jenis transplantasi yang dilakukan, Anda mungkin perlu berbaring telentang untuk beberapa waktu setelah operasi agar jaringan donor dapat menempel dengan baik.
  • Hubungi dokter spesialis mata jika ada pertanyaan atau kekhawatiran terkait perawatan di rumah.

Waktu pemulihan total dari operasi ini dapat bervariasi, tergantung pada jenis transplantasi yang dilakukan dan bagaimana proses penyembuhan mata Anda.

Referensi

1.   Tillett, C.W. (1956). Posterior lamellar keratoplasty. American Journal of Ophthalmology, 41.

2.   Mannis, M.J., & Holland, E.J. (2016). Cornea – fundamental, diagnosis and management (4th ed.). Philadelphia: Elsevier.

3.   Melles, G.R., Eggink, F.A., Lander, F., Pels, E., Rietveld, F.J., Beekhuis, W.H., et al. (1998). A surgical technique for posterior lamellar keratoplasty. Cornea.

4.   Sharma, N., Maharana, P.K., Singhi, S., Aron, N., & Patil, M. (2017, March). Descemet stripping automated endothelial keratoplasty. Indian Journal of Ophthalmology.

5. Bowling, B. (2020). Kanski’s Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. Sydney: Elsevier. p. 204.

6.   Singh, R., Gupta, N., Vanathi, M., & Tandon, R. (2019, July). Corneal transplantation in the modern era. Indian Journal of Medical Research.

7.   Armitage, W.J., Goodchild, C., Griffin, M.D., Gunn, D.J., Hjortdal, J., Lohan, P., Murphy, C.C., Pleyer, U., Ritter, T., Tole, D.M., & Vabres, B. (2019, November). High-risk corneal transplantation: Recent developments and future possibilities.

8.   Sathyan, S. (2024). When the eye “met” the eye: A peek into the history of corneal transplantation. Kerala Journal of Ophthalmology, 36(1), 57-58.

.


Tag: transplantasi kornea donor kornea bank mata lions eye bank jakarta donor organ dan jaringan