Kontributor Utama : Dr. Nina Asrini Noor, SpM
Superior limbic keratoconjunctivitis (SLK) ditandai dengan peradangan pada konjungtiva tarsal dan bulbi superior, pewarnaan fluoresens pada kornea dan limbus bagian atas, pewarnaan positif dengan lissamine green atau rose bengal pada konjungtiva bulbi superior yang berdekatan dengan limbus, redundansi konjungtiva limbik superior, dan pembentukan filamen di daerah limbus dan kornea bagian superior.
Hubungan antara SLK dan kelainan tiroid telah dilaporkan pada hingga 30% pasien. Hubungan dengan graft versus host disease (GVHD) juga ditemukan, meskipun angka kejadian tidak diketahui secara persis. Keratokonjungtivitis sicca atau dry eye disease juga dilaporkan terjadi pada 25% pasien.
Etiologi dan patogenesis SLK tidak diketahui. SLK mungkin merupakan manifestasi akhir dari berbagai jalur patofisiologis dan disease entity. Salah satu teori yang paling banyak diadopsi adalah teori yang menyatakan bahwa komponen awal yang memicu SLK adalah gesekan antara bulbi superior dan konjungtiva tarsal yang terjadi secara terus menerus yang disebabkan oleh redundansi konjungtiva. Namun, serupa dengan teori lain yang pernah juga diusulkan sebelumnya, seperti infeksi, imunogenik, dan alergi, teori redundansi ini tidak memiliki bukti yang cukup.
![]() |
Pemeriksaan oftalmologis menunjukkan hiperemia lokal pada konjungtiva bulbi superior dan injeksi siliar pada limbus superior. (Courtesy of Dr. Nina Asrini Noor, SpM) |
Anamnesis:
Gejala penyakit ini ditandai dengan sensasi benda asing secara unilateral ataupun bilateral, fotofobia, berkedip berlebihan, serta mata terasa panas dan nyeri. Ketika ditanya, pasien sering kali dapat secara spesifik melokalisasi letak gejala yang mereka rasakan di bagian atas bola mata.
Pemeriksaan oftalmologis:
Pemeriksaan oftalmologis ditandai dengan reaksi papilomatosa pada konjungtiva tarsal bagian atas, redundansi dan kelemahan konjungtiva bulbi bagian atas, hiperemia konjungtiva superior, dan injeksi siliar pada limbus superior. Pemeriksaan slit lamp yang teliti pada konjungtiva bulbi superior dan konjungtiva tarsal atas adalah kunci diagnostik yang terpenting. Ketika mengevaluasi konjungtiva bulbi bagian atas, dapat ditemukan lipatan, hiperemia, redundansi, dan filamen. Pewarnaan fluorescein dan lissamine green, atau pewarnaan rose bengal bisa sangat berguna. Tes Schirmer dapat berguna jika dicurigai adanya keratokonjungtivitis sicca. Pemeriksaan orbitopati tiroid juga dapat bermanfaat jika dicurigai disfungsi tiroid sebagai penyebabnya.
Belum ada gold standard dalam pengobatan SLK. Berbagai modalitas terapi telah dilaporkan di literatur, antara lain steroid topikal, tacrolimus topikal, bandage contact lens (BCL), scleral lens, punctal plugs, tetes mata ciclosporin, serum autologous, dan sebagainya, dan semuanya telah menunjukkan respons terapeutik yang bervariasi. Reseksi konjungtiva atas dengan atau tanpa kauterisasi termal dan dengan atau tanpa amnion membrane graft memiliki hasil yang bervariasi dalam pengobatan SLK.
Tag: Kornea Konjungtiva Konjungtivitis Keratitis