Kontributor Utama : Dr. Devina Nur Annisa, SpM(K)
Strabismus, dikenal juga dengan sebutan "mata juling", merupakan kelainan penglihatan yang dialami oleh sekitar 4% populasi global. Pada strabismus, posisi salah satu atau kedua mata menyimpang ke arah dalam atau ke luar, dan terlihat tidak sejajar terhadap arah objek yang difokuskan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kelainan refraksi, kelainan fusi binokuler (kemampuan menggabungkan citra yang ditangkap oleh masing-masing mata menjadi satu persepsi gambar yang utuh), atau kelainan neuromuskular yang berperan dalam pergerakan bola mata . Kondisi ini dapat mengganggu kesejajaran normal mata yang menyebabkan mata mengarah ke arah yang berbeda dari semestinya. Strabismus dapat berkembang dalam berbagai bentuk dan derajat serta ada yang dimulai sejak kecil.
Jika tidak ditangani, strabismus dapat menyebabkan berbagai gangguan penglihatan dan bahkan berdampak pada kepercayaan diri dan kualitas hidup seseorang. Strabismus yang timbul pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh penyebab neurologis atau dapat disebabkan oleh strabismus pada masa kanak-kanak. Kondisi strabismus dinilai melalui perspektif fisik dan fungsional. Strabismus dapat muncul sejak usia dini dengan kelainan mata yang jelas secara fisik namun tidak menunjukkan gejala gangguan penglihatan atau dapat muncul secara akut pada akhir masa kanak-kanak atau dewasa dengan gejala penglihatan ganda (atau diplopia) .
Deteksi dan tindaklanjut strabismus sejak anak-anak penting dilakukan karena adanya risiko ambliopia yang dapat mengakibatkan hilangnya penglihatan binokular. Pada kasus yang sangat jarang, strabismus muncul bersamaan dengan kelainan mata yang lain seperti katarak kongenital, malformasi mata kongenital, atau retinoblastoma. Sebaliknya, diplopia biasanya dihubungkan dengan strabismus yang didapat (acquired).
Berdasarkan usia timbulnya strabismus, strabismus dapat dikategorikan sebagai strabismus usia dini jika kondisi ini ditemukan pada atau sebelum usia 6 bulan dan strabismus yang didapat (acquired) jika ditemukan setelah usia enam bulan. Sedangkan berdasarkan sudut deviasi, strabismus dikategorikan sebagai strabismus concomitant jika sudut deviasinya tetap sama terlepas dari perubahan gerak bola mata, dan strabismus incomitant jika sudut deviasinya bervariasi .
Selain itu mata juling dapat bersifat konstan, yaitu tampak setiap saat, atau timbul pada keadaan-keadaan tertentu, seperti bila anak sedang sakit, melamun lihat jauh atau lelah.
Pada mata juling konstan, ada tiga hal bisa terjadi:
Terapi anak dengan juling terdiri dari 2 bagian:
Pada kasus-kasus tertentu dapat dilakukan terapi dengan cara latihan orthoptic beberapa kali dengan alat synoptophore.
Pada anak dengan juling konstan, operasi juling sebaiknya dilakukan bila penglihatan pada kedua mata telah seimbang sehingga penglihatan binokular dapat berkembang. Pada anak dengan juling yang hilang timbul, operasi juling tidak harus dilakukan segera karena anak masih memiliki penglihatan binokular pada sebagian waktu, yaitu saat anak tidak terlihat juling
Sebagian juling terjadi akibat adanya kelainan refraksi (hiperopia atau miopia) yang tidak dikoreksi. Dengan demikian, kacamata kadang-kadang dapat mengurangi juling atau menghilangkan kebutuhan akan operasi juling. Setiap anak dengan juling harus dicek keadaan mata dan kelainan refraksinya. Bila diberikan kacamata, harus dipakai sepanjang hari untuk membantu meluruskan matanya.
Tag: Strabismus Mata Juling