SIKLOPLEGIK

Pendahuluan

Sikloplegik merupakan obat yang digunakan untuk melemahkan otot siliaris dan menyebabkan relaksasi akomodasi sementara. Secara keseluruhan, siklopegik mengurangi kemampuan mata untuk berakomodasi dan menyebabkan pupil melebar yang memungkinkan mata untuk dilakukan prosedur diagnostik (seperti pemeriksaan refraksi mata) dan untuk mengatasi beberapa kondisi medis. Refraksi Sikloplegik adalah proses pemeriksaa kelainan refraksi dengan menggunakan agen sikloplegik.

Agen sikloplegik adalah jenis obat mata yang memparalisis otot siliar mata secara sementara dan mengakibatkan hilangnya akomodasi. Anak-anak dan orang dewasa muda masih memiliki kemampuan akomodasi yang kuat. Akomodasi adalah kemampuan mata untuk mengubah fokus untuk memberikan kejernihan pada objek yang berada pada jarak yang bervariasi. Semakin muda seorang anak akan semakin tinggi kemampuan akomodasi (yang dihitung sebagai amplitudo akomodasi). Kemampuan akomodasi ini menurun seiring bertambahnya usia, hingga usia 30-an akhir, saat penurunan ini menjadi nyata dan melakukan pekerjaan dekat menjadi semakin sulit, kondisi ini disebut presbiopia.

Kemampuan akomodasi yang kuat pada anak-anak dapat mempengaruhi akurasi penilaian kelainan refraksi mereka sehingga mengakibatkan pemberian resep kacamata yang tidak akurat. Hal ini bisa menyebabkan strabismus (juling), ambliopia (mata malas), penglihatan yang tidak optimal, munculnya gejala asthenopia seperti kelelahan mata dan keluarnya air mata

Farmakologi Sikloplegik

a. Mekanisme Kerja

Berdasarkan mekanisme kerjanya, sikloplegik disebut sebagai golongan agen antikolinergik yang memiliki efek midrisis. Antikolinergik juga sering disebut sebagai antimuskarinik, atau parasimpatolitik. Reseptor muskarinik tersebar luas di seluruh tubuh manusia, dan studi imunopresipitasi telah menunjukkan bahwa kelima subtipe reseptor muskarinik terdapat di mata manusia, terutama di iris dan tubuh siliaris. Sikloplegik merupakan agen antikolinergik yang memblokir mekanimse dari agen asetilkolin pada reseptor muskrainik yang terdapat pada otot siliaris. Asetilkolin merupakan neurotransmitter yang merangsang otot siliaris untuk berkontraksi, yang memungkinkan mata untuk berakomodasi (fokus pada objek dekat). Pemberian agen siklopegik juga mengakibatkan penghambatan akomodasi dan juga midriasis (karena kelumpuhan otot sfingter pupila).

b. Farmakokinetika

Farmakokinetika sikloplegik mengarah pada bagaimana obat sikloplegik diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan dieliminasi dari tubuh.

  •  Absorbsi : Secara keseluruhan obat-obat sikloplegik diberikan dalam sediaan tetes mata. Setelah tetes mata diteteskan ke mata, obat akan diserap melalui konjungtiva dan kornea, kemudian akan menuju ruang anterior mata yaitu iris dan otot siliaris.
  • Distribusi : Obat sikloplegik dapat didistribusikan ke seluruh tubuh, tetapi utamanya berkonsentrasi di mata, khususnya terletak di iris, otot siliaris serta retina. 
  •  Metabolisme : Obat yang digunakan dalam sediaan tetes mata, memiliki metabolisme yang lebih minim dalam tubuh, karena sebagian besar memiliki efek hanya secara lokal di mata.
  • Eliminasi : Obat – obat sikloplegik sebagian besar dieliminasi dari tubuh melewati ginjal. Produk metabolik yang dihasilkan oleh hati akan disaring dan dikeluarkan melalui urin. 

 

Jenis - Jenis Obat Sikloplegik

Obat sikloplegik secara kolektif disebut parasympatholytic atau agen antikolinergik karena mereka mengurangi atau memblokir aktivitas sistem saraf parasimpatis melalui aksi antikolinergik mereka. Agen ini akan mencegah neurotransmiter asetilkolin untuk bertindak sebagai neurotransmiter pada reseptor muskarinik. Ketika agen-agen ini diteteskan ke mata, aksi ini menyebabkan midriasis dan sikloplegia. Agen sikloplegik yang biasa digunakan termasuk siklopentolat, tropikamid, atropin, skopolamin, dan homatropin.Agen sikloplegik yang digunakan untuk midriasis (dilatasi pupil) adalah obat-obat yang bekerja dengan cara melemahkan otot siliaris dan otot sfingter pupila. Hal ini dapat menyebabkan pupil mata melebar. Beberapa agen sikloplegik yang umum digunakan untuk tujuan midriasis adalah :

  • Siklopentolat tersedia dalam larutan 0,5%, 1%, dan 2%, dengan konsentrasi 1% (0,5% untuk anak-anak di bawah usia 1 tahun). Siklopentolat merupakan standar baku emas untuk refaksi sikloplegik. Siklopentolat digunakan 1 tetes setiap 5-10 menit dalam 2 dosis. Agen ini paling dapat ditoleransi, dengan onset aksi yang relatif cepat dan durasi efek yang singkat; oleh karena itu, cocok untuk sebagian besar pasien. Sikloplegia terjadi dalam waktu kurang dari 1 jam (antara 30-60 menit) dengan periode pemulihan kurang dari sehari, tetapi memiliki efek samping minimal, terutama pada anak-anak, yang mungkin mengalami sensasi perih sementara yang terasa cukup kuat, perubahan perilaku, halusinasi visual, bicara cadel, reaksi alergi dengan gejala seperti edema kelopak mata dan konjungtivitis. Refraksi harus dilakukan dalam waktu 1 jam setelah penetesan obat karena onsetnya yang cepat dan durasi efek sikloplegiknya yang singkat. 
  • Atropin : Atropin tersedia dalam konsentrasi 0,5%, 1%, dan 3%, baik sebagai tetes oftalmik topikal maupun salep. Larutan 1% paling sering digunakan dalam klinis. Atropin diberikan dalam dosis 1 tetes 3 kali sehari selama 1-2 hari untuk mencapai efek sikloplegik penuh. Midriasis penuh terjadi dalam waktu 20-30 menit dan efek sikloplegik terjadi dalam 1-3 jam. Efek sikloplegik penuh tercapai dalam beberapa hari. Atropin adalah agen sikloplegik yang kuat, efektif, dengan onset lambat dan durasi aksi yang lama. Efeknya bertahan selama beberapa hari hingga minggu. Penggunaan atropin harus hati-hati untuk menghindari efek samping seperti kemerahan pada kulit, demam, mulut kering, kebingungan, halusinasi, denyut nadi yang cepat dan tidak teratur, atau kegelisahan akibat penyerapan sistemik yang dapat berakibat fatal akibat respons idiosinkratik setelah penetesan 1 atau 2 tetes pada setiap mata atau karena overdosis setelah beberapa kali penetesan obat. Orangtua dan pengasuh harus diberi informasi yang baik mengenai tanda-tanda awal efek samping agar mereka dapat menghentikan pemberian obat dan berharap dapat menghindari efek samping tersebut. Jika efek samping terjadi, perhatian medis segera diperlukan dengan pemberian fisostigmin salisilat sebanyak 2 mg pada dosis 0,02-0,03 mg/kg secara intravena atau intramuskular. Pemberian ini dapat diulang setiap 30 menit dan setelah 1-2 jam sesuai kebutuhan. Jika siklopentolat tidak efektif pada anak-anak dengan iris yang sangat gelap, atropin dapat digunakan untuk mencapai efek yang diinginkan. 
  • Tropikamid : Tropikamid tersedia dalam konsentrasi 0,5% dan 1%. Konsentrasi 0,5% dapat digunakan pada bayi hingga usia 3 bulan. Konsentrasi 1% paling sering digunakan untuk praktek klinis. Tropikamid diteteskan dalam 2-3 dosis, 1 tetes setiap 5 menit. Onset sikloplegia terjadi dalam waktu 25-30 menit dan efeknya berlangsung selama 30 menit. Tropikamid adalah agen mydriatik yang efektif dan cepat bekerja dengan aksi sikloplegik yang lemah, durasi aksi yang lebih pendek, dan pemulihan lengkap dalam waktu sekitar 5-6 jam. Anestesi topikal dapat diteteskan terlebih dahulu untuk meminimalkan refleks keluarnya air mata yang mungkin muncul akibat sensasi perih yang disebabkan oleh obat ini. Pemberian anestesi topikal membantu menjaga konsentrasi obat yang cukup di mata, sehingga memungkinkan penyerapan dan efektivitas yang memadai, serta mengurangi sensasi perih yang mungkin muncul pada tetes berikutnya. Pendekatan ini juga dapat diterapkan pada pemberian agen sikloplegik lainnya, terutama pada bayi. Tropikamid aman diberikan dengan efek samping gangguan sistem saraf pusat yang jarang terjadi. Tropikamid dapat digunakan sebagai alternatif siklopentolat pada anak-anak yang memiliki gangguan sistem saraf pusat, sindrom Down, pada anak dengan iris gelap karena penetrasi tropikamid yang efisien, serta pada anak-anak non-strabismus usia 3-16 tahun. 
  • Homatropin : Homatropin hidrobromida tersedia dalam konsentrasi 2% dan 5%. Obat ini diberikan 1 tetes setiap 5-10 menit dalam 2 dosis sebelum pemeriksaan refraksi. Homatropin adalah agen sikloplegik yang cepat bekerja dan efektif, dengan onset sikloplegik dalam waktu 20-30 menit dan efek sikloplegik maksimal dalam 40-60 menit; obat ini efektif selama 2-3 jam dan pemulihan lengkap memerlukan 1-2 hari. Durasi sikloplegia yang lebih singkat, pemulihan yang lebih cepat, dan risiko efek samping yang lebih rendah memberikan keuntungan dibandingkan dengan atropin dan skopolamin. Pemberian homatropin jarang dikaitkan dengan efek samping. 
  • Skopolamin : Skopolamin hidrobromida tersedia dalam konsentrasi 0,25% dan 0,50% tetes mata dan salep. Konsentrasi 0,25% paling sering digunakan dalam klinis. Obat ini diberikan 1 tetes setiap 5-15 menit dalam 2-3 dosis sebelum refraksi untuk mencapai efek sikloplegik penuh. Onset efek sikloplegik terjadi dalam waktu sekitar 30-40 menit dan efek maksimal dalam 1-2 jam. Skopolamin adalah agen sikloplegik yang efektif dan cepat bekerja, dengan durasi aksi hingga 3-5 hari. Namun, obat ini cenderung menyebabkan pusing terutama pada individu usia tua sehingga harus digunakan dengan hati-hati pada populasi ini.

Perbandingan Efek Midriasis dan Sikloplegia pada obat Sikloplegik

Indikasi Pemeriksaan Sikloplegik

  1. Ketika hasil refraksi subjektif tidak signifikan atau tidak dapat diandalkan.
  2. Ketika ada kecurigaan hipermetropia laten atau gejala asthenopia yang tidak dapat dijelaskan.
  3. Penentuan koreksi hipermetropia penuh dalam penanganan esotropia manifest pada anak.
  4. Penanganan spasme akomodasi atau kelelahan akomodasi.
  5. Strabismus dan anisometropia.
  6. Diagnosis dan penanganan yang tepat untuk esoforia yang tidak terkompensasi dan dugaan pseudomopia.
  7. Terapi oklusi farmakologis dalam penanganan ambliopia.
  8. Penilaian kelelahan mata pada orang dewasa dengan hipermetropia.
  9. Menyingkap penyebab ketajaman stereoskopik yang buruk.
  10. Skrining pada kasus dengan riwayat keluarga yang memiliki kelainan refraksi tinggi.
  11. Evaluasi terhadap orang yang diduga berpura-pura atau histeria.
  12. Penentuan kesalahan refraksi yang akurat sebelum operasi refraktif laser.
  13. Pemeriksaan pasien yang cacat atau mental terbelakang karena kemungkinan respons mereka yang tidak kooperatif selama refraksi subjektif.

Indikasi Klinis Sikloplegik

  • Pemeriksaan Refraksi Mata 

Digunakan untuk menginduksi kelumpuhan akomodasi pada mata, yang memungkinkan pemeriksaan refraksi yang lebih akurat utamanya pada pasien dengan kelainan refraksi seperti miopia (rabun jauh) atau hipermetropi (rabun dekat).

  • Pengobatan Iritis dan Uveitis Anterior

Dalam kondisi seperti iritis (peradangan pada iris) atau uveitis anterior (peradangan pada bagian depan mata), sikloplegik digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya adhesi (perlekatan) antara iris dan lensa, yang dapat mengakibatkan komplikasi serius.

 

Efek Samping Sikloplegik

Sejumlah efek samping telah dilaporkan dalam beberapa literatur atau jurnal, Efek samping okular dari sikloplegik termasuk dari reaksi alergi atau hipersensitivitas dengan konjungtivitis, kelopak mata bengkak serta sensasi panas pada mata. Selanjutnya untuk efek samping sistemik antara lain reaksi psikotik, gangguang perilaku serta halusinasi.

Gambar : The reported side effects and their frequency (Aljawhara Aldamri et al., 2024)

 

Daftar Referensi

Katzung, Bertram G. 2018. Basic & Clinical Pharmacology, Fourteenth Edition.

https://go.drugbank.com.

Kaur K, Gurnani B. Cycloplegic and Noncycloplegic Refraction. [Updated 2023 Jun 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK580522/

Kyei S, Nketsiah AA, Asiedu K, Awuah A, Owusu-Ansah A. Onset and duration of cycloplegic action of 1% cyclopentolate - 1% tropicamide combination. Afr Health Sci. 2017 Sep;17(3):923-932. doi: 10.4314/ahs.v17i3.36. PMID: 29085421; PMCID: PMC5656211