Kontributor Utama : Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K)
Sikloplegik merupakan obat yang digunakan untuk melemahkan otot siliaris dan menyebabkan relaksasi akomodasi sementara. Secara keseluruhan, siklopegik mengurangi kemampuan mata untuk berakomodasi dan menyebabkan pupil melebar yang memungkinkan mata untuk dilakukan prosedur diagnostik (seperti pemeriksaan refraksi mata) dan untuk mengatasi beberapa kondisi medis. Refraksi Sikloplegik adalah proses pemeriksaa kelainan refraksi dengan menggunakan agen sikloplegik.
Agen sikloplegik adalah jenis obat mata yang memparalisis otot siliar mata secara sementara dan mengakibatkan hilangnya akomodasi. Anak-anak dan orang dewasa muda masih memiliki kemampuan akomodasi yang kuat. Akomodasi adalah kemampuan mata untuk mengubah fokus untuk memberikan kejernihan pada objek yang berada pada jarak yang bervariasi. Semakin muda seorang anak akan semakin tinggi kemampuan akomodasi (yang dihitung sebagai amplitudo akomodasi). Kemampuan akomodasi ini menurun seiring bertambahnya usia, hingga usia 30-an akhir, saat penurunan ini menjadi nyata dan melakukan pekerjaan dekat menjadi semakin sulit, kondisi ini disebut presbiopia.
Kemampuan akomodasi yang kuat pada anak-anak dapat mempengaruhi akurasi penilaian kelainan refraksi mereka sehingga mengakibatkan pemberian resep kacamata yang tidak akurat. Hal ini bisa menyebabkan strabismus (juling), ambliopia (mata malas), penglihatan yang tidak optimal, munculnya gejala asthenopia seperti kelelahan mata dan keluarnya air mata
a. Mekanisme Kerja
Berdasarkan mekanisme kerjanya, sikloplegik disebut sebagai golongan agen antikolinergik yang memiliki efek midrisis. Antikolinergik juga sering disebut sebagai antimuskarinik, atau parasimpatolitik. Reseptor muskarinik tersebar luas di seluruh tubuh manusia, dan studi imunopresipitasi telah menunjukkan bahwa kelima subtipe reseptor muskarinik terdapat di mata manusia, terutama di iris dan tubuh siliaris. Sikloplegik merupakan agen antikolinergik yang memblokir mekanimse dari agen asetilkolin pada reseptor muskrainik yang terdapat pada otot siliaris. Asetilkolin merupakan neurotransmitter yang merangsang otot siliaris untuk berkontraksi, yang memungkinkan mata untuk berakomodasi (fokus pada objek dekat). Pemberian agen siklopegik juga mengakibatkan penghambatan akomodasi dan juga midriasis (karena kelumpuhan otot sfingter pupila).
b. Farmakokinetika
Farmakokinetika sikloplegik mengarah pada bagaimana obat sikloplegik diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan dieliminasi dari tubuh.
Obat sikloplegik secara kolektif disebut parasympatholytic atau agen antikolinergik karena mereka mengurangi atau memblokir aktivitas sistem saraf parasimpatis melalui aksi antikolinergik mereka. Agen ini akan mencegah neurotransmiter asetilkolin untuk bertindak sebagai neurotransmiter pada reseptor muskarinik. Ketika agen-agen ini diteteskan ke mata, aksi ini menyebabkan midriasis dan sikloplegia. Agen sikloplegik yang biasa digunakan termasuk siklopentolat, tropikamid, atropin, skopolamin, dan homatropin.Agen sikloplegik yang digunakan untuk midriasis (dilatasi pupil) adalah obat-obat yang bekerja dengan cara melemahkan otot siliaris dan otot sfingter pupila. Hal ini dapat menyebabkan pupil mata melebar. Beberapa agen sikloplegik yang umum digunakan untuk tujuan midriasis adalah :
Digunakan untuk menginduksi kelumpuhan akomodasi pada mata, yang memungkinkan pemeriksaan refraksi yang lebih akurat utamanya pada pasien dengan kelainan refraksi seperti miopia (rabun jauh) atau hipermetropi (rabun dekat).
Dalam kondisi seperti iritis (peradangan pada iris) atau uveitis anterior (peradangan pada bagian depan mata), sikloplegik digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya adhesi (perlekatan) antara iris dan lensa, yang dapat mengakibatkan komplikasi serius.
Sejumlah efek samping telah dilaporkan dalam beberapa literatur atau jurnal, Efek samping okular dari sikloplegik termasuk dari reaksi alergi atau hipersensitivitas dengan konjungtivitis, kelopak mata bengkak serta sensasi panas pada mata. Selanjutnya untuk efek samping sistemik antara lain reaksi psikotik, gangguang perilaku serta halusinasi.
Gambar : The reported side effects and their frequency (Aljawhara Aldamri et al., 2024)
Katzung, Bertram G. 2018. Basic & Clinical Pharmacology, Fourteenth Edition.
https://go.drugbank.com.
Kaur K, Gurnani B. Cycloplegic and Noncycloplegic Refraction. [Updated 2023 Jun 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK580522/
Kyei S, Nketsiah AA, Asiedu K, Awuah A, Owusu-Ansah A. Onset and duration of cycloplegic action of 1% cyclopentolate - 1% tropicamide combination. Afr Health Sci. 2017 Sep;17(3):923-932. doi: 10.4314/ahs.v17i3.36. PMID: 29085421; PMCID: PMC5656211