Kontributor Utama : Dr. Nadya Regina Permata
Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kekeruhan kornea merupakan penyebab kebutaan keempat di dunia (5,1%) setelah katarak, glaukoma, dan degenerasi makula. Di antara berbagai kasus kekeruhan kornea, penyebab utama meliputi trachoma, keratitis infeksius, xerophthalmia, penggunaan obat mata tradisional, dan trauma okular.
Hal ini serupa dengan prevalensi penyakit mata penyebab kebutaan di Indonesia. Katarak menjadi penyebab utama gangguan penglihatan (73,9%), diikuti oleh kelainan refraksi (6,7%), glaukoma (5,2%), dan kelainan kornea (3,7%).
Untuk mengatasi kelainan kornea, transplantasi kornea merupakan metode utama dan saat ini satu-satunya pengobatan yang diterima secara luas untuk pemulihan penglihatan.(3) Teknik pembedahan dan indikasi transplantasi kornea telah mengalami banyak perubahan selama bertahun-tahun. Terdapat berbagai parameter anatomi dan klinis yang perlu dievaluasi sebelum menentukan jenis transplantasi kornea yang akan dilakukan. Prosedur transplantasi kornea diklasifikasikan menjadi transplantasi penuh (penetrating keratoplasty) dan transplantasi kornea lamelar parsial, yang mencakup anterior lamellar keratoplasty [superficial anterior lamellar keratoplasty (SALK), automated lamellar therapeutic keratoplasty (ALTK), dan deep anterior lamellar keratoplasty (DALK)] serta posterior lamellar keratoplasty [Descemet stripping automated endothelial keratoplasty (DSAEK) dan Descemet membrane endothelial keratoplasty (DMEK)].
Di Indonesia, banyak dokter spesialis mata yang mampu melakukan transplantasi kornea. Namun, prosedur ini sangat bergantung pada ketersediaan jaringan kornea dari donor. Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia memiliki jumlah jaringan kornea yang lebih rendah serta tingkat kesadaran dan kemauan untuk mendonorkan kornea yang masih minim. Hal ini menyebabkan banyak pasien harus menunggu lama untuk menjalani operasi transplantasi kornea.
Beberapa jurnal mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi kesediaan seseorang untuk mendonorkan jaringan kornea, seperti lokasi, latar belakang budaya, serta faktor emosional yang dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam mendonorkan kornea.
Program Pengambilan Kornea di Rumah Sakit (Hospital Cornea Retrieval Programme/HCRP) bertujuan untuk mengambil jaringan kornea dari donor yang memenuhi syarat dan bersedia setelah meninggal di rumah sakit. Tim yang telah dibentuk, terdiri dari staf ICU, konselor berduka, dan staf bank mata, akan bekerja secara sinkron untuk memastikan proses pengambilan dapat dilakukan.
Program Pengambilan Kornea di Rumah Sakit (HCRP) berfokus pada rumah sakit multispesialis untuk mengambil jaringan kornea karena berbagai keuntungan berikut:
Dalam Program Pengambilan Kornea di Rumah Sakit (HCRP), konselor bank mata yang telah terlatih mendekati keluarga almarhum, memberikan konseling dukacita, dan mendorong mereka untuk mempertimbangkan donasi mata. Hal ini membuat program lebih efektif karena bahkan keluarga yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan tentang donasi mata dapat diberikan edukasi dan motivasi oleh konselor donasi mata yang tersedia sepanjang waktu di rumah sakit.
HCRP, yang berfokus pada pengambilan jaringan kornea di rumah sakit, memiliki beberapa keuntungan, antara lain:
i) Ketersediaan riwayat medis yang rinci dan dapat dipercaya dalam catatan rumah sakit.ii) Kemungkinan memperoleh jaringan kornea dari individu yang lebih muda.iii) Pengurangan waktu antara kematian donor dan pengambilan jaringan kornea.iv) Lebih hemat biaya.
Dengan diterapkannya Program Pengambilan Kornea di Rumah Sakit (HCRP), berbagai bank mata telah berhasil mengumpulkan lebih banyak kornea berkualitas baik.
Namun di Indonesia, masih cukup sulit untuk melakukan dan menjalankan program HCRP tersebut dikarenakan kendala dari berbagai aspek.
Lions Eye Bank Jakarta merupakan Bank Mata pertama di Indonesia yang berhasil menjalankan program HCRP dengan beberapa Rumah Sakit kerjasama, diantaranya : RS St. Carolus dan RS EMC Grha Kedoya.
Tag: Bank Mata Lions Eye Bank Jakarta Donor Kornea HCRP Corneal blindness