CITICOLINE

Pendahuluan

Citicoline yang sering disebut juga sebagai (CDP-choline atau Cytidine diphosphate choline) merupakan senyawa alami yang berperan penting sebagai perantara endogen dalam memproduksi  fosfatidilkolin dari kolin yang diperkirakan memiliki efek neuroprotektif sehingga Citicoline digunakan sebagai pengobatan pendukung pada penyakit traumatik, iskemik, dan degeneneratif, untuk kelainan saraf maupun mata.

Struktur Kimia

Citicoline (cytidine-5′-diphosphocholine; CDP-choline) adalah mononukleotida endogen, yang terdiri dari ribose , cytosine , pyrophosphate , dan choline , dan merupakan prekursor penting untuk sintesis fosfolipid membran plasma neuronal , yang penting sebagai langkah pembatas laju dalam sintesis fosfatidilkolin. Citicoline juga dapat menjadi sumber eksogen untuk sintesis asetilkolin , neurotransmitter utama , dan merupakan anggota kelompok molekul yang memainkan peran penting dalam metabolisme seluler, seperti nukleotida yang membentuk unit struktural dasar yang ditemukan dalam asam nukleat . 

Mekanisme Kerja Pada Sistem Saraf Mata

 

  • Meningkatkan Biosintesis Fosfolipid Membran

Citicoline berperan dalam meningkatkan biosintesis fosfolipid, yang merupakan komponen utama dari membran sel, termasuk pada sel saraf di mata (saraf optik). Pengaruh ini sangat membantu dalam memperbaiki dan menjaga struktur membran sel saraf optik, yang krusial untuk mempertahankan fungsi normalnya.

  •   Neuroproteksi pada Saraf Optik

Citicoline memiliki efek neuroprotektif yang signifikan pada saraf optik, sangat penting dalam mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh kondisi seperti glaukoma. Dalam situasi ini, peningkatan tekanan intraokular dapat merusak saraf optik. Dengan demikian, citicoline berperan dalam melindungi sel-sel saraf dari kerusakan yang lebih lanjut.

  •    Meningkatkan Metabolisme Energi Seluler

Citicoline memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi ATP, yang sangat penting bagi fungsi sel saraf. Dalam hal ini, pada saraf mata, terutama pada sel ganglion retina dan saraf optik, peningkatan energi seluler dapat mendukung kelangsungan hidup serta kinerja sel-sel tersebut.

  • Meningkatkan Aktivitas Neurotransmiter

Citicoline berfungsi untuk meningkatkan kadar asetilkolin, yang merupakan neurotransmiter penting dalam proses pengiriman sinyal di sistem saraf. Asetilkolin memiliki peranan krusial dalam mentransmisikan sinyal saraf antara retina dan otak, sehingga dapat meningkatkan komunikasi yang efektif antara saraf optik dan pusat pengolahan visual.

  •  Mengurangi Stres Oksidatif dan Peradangan

Citicoline telah terbukti efektif dalam mengurangi stres oksidatif dan peradangan yang sering dialami pada kondisi seperti glaukoma dan retinopati diabetik. Dengan mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas dan peradangan, citicoline berperan penting dalam menjaga kesehatan fungsi saraf optik dan retina.

  •   Mengatur Mekanisme Neuroplastisitas

Citicoline dapat merangsang mekanisme neuroplastisitas yang mendukung kemampuan saraf mata untuk beradaptasi dan memperbaiki dirinya setelah mengalami cedera atau gangguan. Hal ini sangat krusial dalam proses pemulihan pasca-trauma maupun pada kondisi penyakit degeneratif.

 

Farmakokinetika

Citicoline yang diberikan secara oral bersifat larut dalam air dan cepat diabsorpsi setelah diminum. Kadar puncak plasma menunjukkan pola bifasik, dengan puncak pertama muncul dalam waktu 1 jam dan puncak kedua yang lebih tinggi terjadi setelah 24 jam pasca konsumsi obat. Bioavailabilitasnya sangat tinggi, mencapai lebih dari 90%, sementara kurang dari 1% diekskresi melalui feses.

Citicoline mengalami proses hidrolisis di usus dan hati. Hasil hidrolisis di dinding usus menghasilkan kolin dan sitidin. Kedua senyawa ini kemudian terdistribusi ke berbagai jaringan dalam tubuh, termasuk sistem saraf pusat, dan mengalami resintesis menjadi citicoline oleh enzim cytidine-triphosphate-phosphocholine cytidylyl transferase. Penelitian dengan menggunakan teknik radioaktif menunjukkan bahwa sekitar 0. 5% dari total radioaktivitas citicoline terdeteksi di sistem saraf pusat. Jika citicoline diberikan secara intravena, jumlahnya di sistem saraf pusat dapat meningkat hingga 2%. Pemberian citicoline dalam bentuk liposom juga dapat meningkatkan transportasi citicoline eksogen ke dalam sistem saraf pusat.

Eliminasi citicoline dalam tubuh terutama terjadi melalui jalur pernapasan sebagai CO2 dan melalui urin. Waktu paruh eliminasi untuk CO2 adalah sekitar 56 jam, sementara untuk urin adalah 71 jam.

 

Dosis

  • Dosis untuk Glaukoma dan Kerusakan Saraf Optik

Dosis Oral : Untuk pengobatan glaukoma atau kerusakan saraf optik, dosis yang digunakan adalah 500 mg hingga 1.000 mg per hari. Dosis ini biasanya diberikan dalam 1 hingga 2 dosis terpisah setiap hari, seperti 500 mg setiap 12 jam.

Dosis Intravena : Pada kondisi yang lebih parah atau saat pengobatan dilakukan di rumah sakit, citicoline dapat diberikan secara intravena dengan dosis 500 mg hingga 1.000 mg per hari.

Durasi Pengobatan : Pengobatan biasanya berlangsung selama 4 hingga 6 minggu, tergantung pada respons klinis pasien.

  • Dosis pada Retinopati Diabetik dan Gangguan Retina Lainnya

Dosis Oral: Dosis standar citicoline untuk pasien dengan retinopati diabetik atau gangguan retina lainnya adalah 500 mg per hari, yang dibagi menjadi dua dosis (misalnya, 250 mg setiap 12 jam).

  • Dosis pada Pasien dengan Gangguan Penglihatan Pasca-Trauma

Dosis Oral: Pada pasien dengan gangguan penglihatan akibat cedera atau trauma kepala yang memengaruhi saraf optik, dosis citicoline dapat diberikan dalam rentang 500 mg hingga 2.000 mg per hari.

Durasi Pengobatan: Pengobatan pasca-trauma biasanya berlangsung selama 6 hingga 8 minggu, tergantung pada tingkat keparahan cedera dan respons pengobatan.

  • Untuk masalah kognitif dan demensia

Dosis yang umum adalah 500 mg hingga 2000 mg per hari, dibagi dalam 1-2 dosis.

  • Untuk pemulihan pasca-stroke

Dosis yang direkomendasikan adalah 1000 mg hingga 2000 mg per hari, dibagi dalam dua dosis.

  • Untuk pengobatan gangguan neurologis

Dosis yang umum adalah 500 mg hingga 1000 mg per hari.

  • Sebagai suplemen untuk meningkatkan fungsi kognitif

Dosis yang digunakan adalah 250 mg hingga 500 mg per hari

Efek Samping & Kontraindikasi

a.       Efek Samping :

-           Mual

-          Sembelit

-           Diare

-          Sakit kepala

-          Insomnia (kesulitan tidur)

-          Hipotensi (penurunan tekanan darah)

-          Penglihatan kabur

-          Peningkatan atau penurunan detak jantung

b.      Kontraindikasi :

-          Kehamilan dan menyusui

-          Penyakit jantung

-          Gangguan pembekuan darah

-          Alergi atau hipersensitivitas

Interaksi Obat

Pada pasien dengan penyakit parkinson penggunaan citicoline bersamaan dengan obat golongan antiparkinson seperti levodopa, citicoline dapat meningkatkan  efek levodopa. Penelitian menunjukkan bahwa citicoline dapat meningkatkan tingkat dopamin di otak dan/atau meningkatkan kelangsungan hidup sel dopaminergik.

Peran Citicoline Pada Ambliopia

Ambliopia merupakan suatu penyakit penurunan ketajaman penglihatan yang tidak dapat dikaitkan dengan kelainan strukur mata atau suatu sistem penglihatan yang akan menyebabkan kehilangan penglihatan sebagian maupun kebutaan akibat stimulasi yang tidak cukup pada usia dini. Kejadian ambliopia tidak ada kaitannya dengan usia dan gender. Namun, anak-anak memiliki risiko tinggi terjadinya gangguan penglihatan lebih lanjut hingga dewasa sebagai akibat kerusakan penglihatan mata atau perkembangan penyakit seperti degenerasi makula. Citicoline merupakan suatu intermediet dari fosfatidikolin, suatu fosfolipid di membran sel. Citicoline digunakan sebagai pengobatan pendukung pada kelainan saraf maupun mata. Pada mata ambliopia, citicoline bekerja memperbaiki jalur visual postretina dan retina dengan menstimulasi sistem dopaminergik, dengan demikian dapat meningkatkan ketajaman penglihatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa jurnal,  pemberian citicoline dapat meningkatkan ketajaman penglihatan pada 46 dari 50 pasien ambliopia dewasa selama paling sedikit 4 bulan efek terapi setelah pemberian 1.000 mg citicoline secara intramuskular selama 15 hari.

Referensi

Secades JJ, Lorenzo JL. Citicoline: pharmacological and clinical review, 2006 update. Methods and Findings in Experimental and Clinical Pharmacology. 2006 Sep;28 Suppl B:1-56. PMID: 17171187.

Alexander G. Schauss, Eri Nakazaki, 67 - Citicoline (CDP-Choline), Textbook of Natural Medicine (Fifth Edition),Churchill Livingstone,2020,https://doi.org/10.1016/B978-0-323-43044-9.000674.(https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780323430449000674)

Parisi V, Oddone F, Ziccardi L, Roberti G, Coppola G, Manni G. Citicoline and Retinal Ganglion Cells: Effects on Morphology and Function. Curr Neuropharmacol. 2018;16(7):919-932. doi: 10.2174/1570159X15666170703111729. PMID: 28676014; PMCID: PMC6120106.

Chițu I, Voinea LM, Istrate S, Vrapciu A, Ciuluvică RC, Tudosescu R. The neuroprotective role of citicoline treatment in glaucoma - 6 months results of a prospective therapeutic trial. Rom J Ophthalmol. 2019 Jul-Sep;63(3):222-230. PMID: 31687623; PMCID: PMC6820495.

McGlade, E. R., & Becker, S. R. (2007). Citicoline in the treatment of cognitive disorders: A review of the literature. Journal of Clinical Psychopharmacology, 27(4), 464–469. doi:10.1097/01.jcp.0000234260.54278.5f