Kontributor Utama : Dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), Dr. Devina Nur Annisa, SpM(K)
Ambliopia, juga dikenal sebagai mata malas, adalah kondisi di mana satu mata tidak berkembang dengan baik dibandingkan dengan mata yang lain. Kondisi ini dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa, dan jika tidak diobati, dapat menyebabkan kebutaan permanen pada mata yang terkena.
Normalnya pada usia 4 tahun, perkembangan bagian otak yang memproses penglihatan hampir lengkap. Bila otak tidak menerima bayangan yang jelas/jernih dari salah satu atau kedua mata, maka akan sulit meningkatkan kemampuan melihat setelah perkembangan otak selesai. Mata ini kemudian akan mengalami ambliopia atau mata malas.
Ambliopia merupakan kelainan perkembangan saraf pada sistem penglihatan selama masa kanak-kanak yang menyebabkan gangguan penglihatan secara unilateral (pada salah satu mata), atau pada kasus yang jarang, secara bilateral (pada kedua mata) . Kondisi Ambliopia terjadi ketika gangguan pada perkembangan korteks visual (bagian otak yang berperan dalam memproses informasi visual) yang memengaruhi salah satu atau kedua mata saat usia masih dini. Ambliopia biasa dikenal juga dengan istilah “mata malas” (lazy eye(s)). Jika tidak diatasi, ambliopia dapat menyebabkan hilangnya penglihatan secara permanen pada mata yang terjangkit, bahkan setelah penyebab yang mendasarinya teratasi .
Pada anak-anak dan dewasa muda, ambliopia merupakan gangguan penglihatan paling umum dari penurunan kemampuan penglihatan pada salah satu mata, dialami oleh sekitar 2% hingga 4% anak-anak di seluruh dunia. Perkembangan kondisi tersebut sering dikaitkan dengan faktor-faktor seperti kurangnya intensitas atau kualitas stimulus penglihatan, atau gangguan interaksi binokuler—kemampuan otak untuk memproses informasi visual berupa citra dari masing-masing mata menjadi suatu citra tiga dimensi yang utuh—selama masa kritis perkembangan anak, dari lahir hingga sekitar usia lima tahun. Pasien dengan ambliopia biasanya menunjukkan penurunan tingkat ketajaman penglihatan terbaik setelah koreksi (best-corrected visual acuity (BCVA)) yang tidak berhubungan dengan perubahan struktural pada mata.
Oleh sebab itu, pengobatan ambliopia paling efektif dilakukan selama periode kritis ketika usia kanak-kanak. Untuk penilaian ketajaman penglihatan, terdapat tiga periode perkembangan yang dapat dipertimbangkan:
Ambliopia hampir selalu dihubungkan dengan riwayat perkembangan penglihatan binokular yang abnormal sejak kecil. Faktor risiko utama ambliopia secara khusus terdiri dari tiga faktor: Mata juling atau strabismus unilateral yang konstan, biasanya esotropia yaitu posisi bola mata menghadap ke dalam, anisometropia yaitu kelainan pada kekuatan refraksi yang tidak sama antar kedua mata, atau yang sifatnya jarang terjadi seperti katarak kongenital, baik pada satu atau kedua mata.
Ambliopia biasanya muncul sebagai kondisi unilateral. Namun, ada beberapa kasus penderita ambliopia yang dapat berujung pada bentuk bilateral jika kedua mata mengalami perubahan penglihatan pada tahap awal perkembangannya . Anisometropia merupakan penyebab paling umum dari ambliopia, lalu diikuti oleh anisometropia campuran (satu mata mengalami rabun dekat dan rabun jauh pada mata lainnya), strabismus, serta perpaduan antara strabismus dan deprivasi penglihatan (kondisi penurunan penglihatan karena adanya hambatan pada jalur penglihatan).
Penyebab ambliopia bisa bermacam-macam, antara lain:
Selain itu, ketika satu mata menderita penyakit seperti glaukoma, atau strabismus, maka mata tersebut akan lebih jarang digunakan dan mengalami ambliopia.
Beberapa faktor-faktor risiko yang dapat berkontribusi pada pengembangan ambliopia antara lain :
Selain faktor-faktor risiko, ambliopia juga dapat dikategorikan berdasarkan penyebab-penyebab yang mendasarinya yaitu, kelainan refraktif, strabismus, dan deprivasi penglihatan.
Ambliopia Strabismik
Kondisi ambliopia strabismik terjadi pada saat kedua mata tidak mampu melakukan penyelarasan citra pada tiap mata menjadi perspektif gambar utuh dengan benar akibat kelainan posisi bola mata. Ketika ambliopia strabismik terjadi pada anak yang belum mampu melakukan fiksasi alternatif—kemampuan memfokuskan objek penglihatan pada salah satu mata—penekanan input atau stimulus visual secara konstan dari mata yang sama dapat menyebabkan ambliopia. Pada anak-anak, otak menggunakan mekanisme guna mencegah diplopia (penglihatan ganda atau membayang) dengan menekan stimulus visual dari salah satu mata yang juling. Stimulus visual atau citra yang ditangkap pada mata yang kemudian ditekan oleh otak dapat menyebabkan gangguan perkembangan penglihatan pada mata tersebut. Pada penderita ambliopia strabismik juga, kedua retina menerima rangsangan di area yang tidak sesuai, sehingga menghambat pembentukan penglihatan atau interaksi binokuler yang tepat. Kedua hal ini berkontribusi dalam kondisi mata ambliopia . Meskipun strabismus dapat diobati melalui metode seperti operasi, dan penggunaan kacamata prisma untuk menyelaraskan mata kembali, ambliopia bisa tetap ada walaupun strabismus yang mendasarinya sudah tertangani.
Ambliopia Refraktif
Ambliopia refraktif terjadi akibat adanya kelainan refraksi, yaitu gangguan penglihatan yang terjadi ketika mata tidak dapat memfokuskan cahaya pada retina, yang terjadi secara konsisten pada salah satu atau kedua mata. Ambliopia refraktif dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe yakni, anisometropia yang menyebabkan ambliopia unilateral, dan isometropia yang menyebabkan ambliopia bilateral. Kelainan refraksi yang mendasari bisa berupa kondisi hiperopia (rabun dekat), astigmatisme, atau myopia (rabun jauh). Umumnya, mata dengan hiperopia atau astigmatisme lebih rentan mengalami ambliopia dibandingkan mata dengan miopia, karena mata dengan miopia masih dapat mempertahankan fokus yang jelas pada objek yang dekat.
Ambliopia Anisometropik
Ambliopia anisometrik merupakan jenis gangguan penglihatan yang terjadi pada satu mata akibat gangguan refraksi yang tidak setara antar kedua mata dan tidak terkoreksi, ditandai dengan perbedaan kelainan refraksi 1 dioptri atau lebih antar kedua mata. Hal ini menyebabkan kekaburan penglihatan pada kekuatan refraksi mata yang lebih lemah karena adanya preferensi pada korteks otak terkait pengolahan informasi visual untuk memproses informasi visual dari mata dengan kekuatan refraksi yang leih baik . Penelitian telah menunjukkan bahwa risiko dan tingkat keparahan ambliopia berkorelasi dengan derajat anisometropia, besarnya kesalahan refraksi, dan astigmatisme . Pada amblyopia anisometropik, Mata penderita ambliopia anisometropik pada usia anak-anak biasanya terlihat normal sehingga sulit untuk mendeteksi dan mendapatkan penanganan.
Ambliopia Isometropik
Ambliopia isoametropik atau ambliopia ametropik bilateral merupakan penurunan ketajaman penglihatan secara bilateral yang disebabkan oleh kelainan refraksi besar yang tidak terkoreksi pada kedua mata. Hiperopia yang melebihi 4,00–5,00 D pada usia lebih dari satu tahun, dan miopia yang melebihi 5,00–6,00 D pada usia berapa pun menjadi faktor risiko terjadinya kondisi ini. Meskipun ambliopia refraksi bilateral termasuk pada kasus yang jarang, namun hal ini dapat terjadi ketika kelainan refraksi yang besar terjadi secara terus menerus dan tidak terkoreksi selama masa perkembangan. Astigmatisme bilateral yang tinggi (lebih dari 1,5 D) juga dapat menyebabkan kondisi ambliopia yang disebut ambliopia meridional.
Ambliopia Deprivasi
Bentuk ambliopia yang paling jarang terjadi, namun paling berat dan sulit diobati adalah ambliopia deprivasi penglihatan yang juga dikenal sebagai ambliopia deprivasi stimulus, atau ambliopia deprivasi visual. Ambliopia deprivasi penglihatan terjadi karena adanya kondisi yang menghalangi sumbu penglihatan sehingga mengaburkan atau menghalangi tangkapan citra yang diproyeksikan pada retina. Penyebab paling umum adalah katarak kongenital atau katarak yang didapat sejak dini. Selain katarak kongenital, faktor-faktor penyebab lain mencakup blefatoptosis (ptosis) kronis, lesi periokular yang menghalangi sumbu penglihatan, kekeruhan kornea, dan perdarahan vitreus. Ambliopia deprivasi penglihatan mampu berkembang lebih cepat dan lebih berat dibandingkan dengan ambliopia strabismus atau anisometropik. Ambliopia deprivasi penglihatan unilateral cenderung menyebabkan defisit penglihatan yang lebih berat jika dibandingkan dengan defisit ambliopia bilateral dengan kondisi serupa. Bahkan pada kasus unilateral yang terjadi pada 3 bulan pertama kehidupan, ketajaman penglihatan bisa mencapai 20/200 atau lebih buruk jika tidak ditangani sejak dini. Pada anak-anak berusia di bawah 6 tahun, katarak dengan opasitas tinggi pada bagian tengah lensa dengan diameter 3 mm atau lebih dapat menyebabkan amblyopia deprivasi penglihatan yang lebih berat dibanding pada anak berusia lebih dari 6 tahun.
Anda dan gejala ambliopia dapat berbeda-beda tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan kondisi tersebut. Beberapa tanda dan gejala yang umum meliputi:
Tujuan utama pengobatan pada ambliopia ialah membatasi risiko kehilangan penglihatan secara total dan permanen pada tahap awal perkembangan . Umumnya, pengobatan akan lebih efektif jika diagnosis dan tindakan terapeutik dimulai sedini mungkin atau dimulai pada masa kanak-kanak . Perawatan yang tepat waktu mampu memberikan banyak manfaat pada masa perkembangan awal dan masa dewasa, termasuk peningkatan tingkat ketajaman penglihatan terbaik setelah koreksi (BCVA), penglihatan binokular, stereopsis (persepsi kedalaman dimensi), sensitivitas kontras, dan kualitas hidup penderita ambliopia. Beberapa studi terkait ambliopia menunjukkan bahwa pengobatan ambliopia secara ekstensif melalui penutup mata, atropin, dan koreksi kacamata telah terbukti efektif dan aman secara klinis. Perawatan tersebut meliputi, jika diperlukan, menghilangkan segala hambatan pada sumbu penglihatan (seperti katarak), memperbaiki kesalahan refraksi, melakukan terapi oklusi alternatif (menutup sementara mata dengan kekuatan refraksi yang lebih baik untuk menstimulasi mata lainnya).
Keberhasilan terapi tergantung pada seberapa beratnya ambliopia dan usia saat mulai dilakukan terapi. Bila masalah dideteksi sejak dini, terapi akan lebih mungkin berhasil dan waktu terapi juga lebih singkat. Bila dideteksi pada usia diatas 4 tahun, angka keberhasilan akan lebih rendah. Oleh karena anak-anak belum dapat mengeluh tentang penglihatannya yang menurun/buruk, deteksi dini perlu dilakukan sebelum anak berusia 4 tahun.
Untuk mendiagnosis ambliopia, dokter mata akan melakukan pemeriksaan dengan alat khusus. Tes visi dan pemeriksaan kedua mata akan dilakukan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan dalam kemampuan penglihatan antara kedua mata.
Pengobatan ambliopia tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan kondisi tersebut. Pengobatan dapat meliputi:
Orang tua didorong untuk memiliki kesadaran mengenai pentingnya pemeriksaan penglihatan dini pada anak. Jika seorang anak didiagnosis menderita ambliopia, orang tua harus memahami bahwa, tanpa pengobatan, kehilangan penglihatan yang terkait dengan ambliopia biasanya tidak dapat disembuhkan. Pentingnya terapi juga harus ditekankan kepada anak dan orang tua. Anak-anak pada awalnya bisa jadi menolak memakai kacamata atau penutup mata, namun orang tua harus memastikan bahwa anak harus mematuhi pengobatan karena kondisi-kondisi mata malas atau ambliopia harus ditangani secepat mungkin guna menghindari kerusakan penglihatan secara permanen.
Tag: Amblipopia Mata Malas